Arsip untuk Kategori 'Tentang Kita'

Akang jangan pusingin Paradox

Sudah berbulan-bulan si Akang abang saya tidak mau lagi
bersengaja menghubungi, juga tampak selalu menghindar
setiap kali saya telepon untuk sekedar bicara.

Tiga tahun lalu, selepas habis masa bakti jadi ketua
Rukun Warga selama dua periode, saya ikut berdoa agar
dia bersedia menjadi ketua mesjid, ngurus mesjid.
Dulu saat warga meminta dia jadi ketua RW, saya juga
ikutan bergerilya kampanye terselubung, layaknya MI5
atau MI6 Secret Service nya British. Dan semuanya sukses.

Selesai ngurus dunia, sekarang saatnya ngurus akhirat,
itulah kira-kira rancangan global saya untuk si Akang.
Ini juga rada mirip dengan ide sekuler yang saya
fahami. Dunia dan akhirat tidak nyampur seperti gula
dan cokelat dalam air.
Dan tidak diaduk dalam satu sajian otak didalam cangkir
berupa tempurung kepala yang volumenya mungkin
tak lebih dari 240 CC.

Tampaknya ide pemisahan urusan ini OK-OK saja, juga
kami sepakat-sepakat saja.
Kata orang sini…semua has been running well.
Pun..rahmattan lil alamiin….rasanya sudah dalam
rengkuhan.

Tapi, belakangan sempat ada “inner circle” ngasih saya
bocoran. Bebeberapa bulan yang lalu si Akang mengeluh
dihadapan “remaja mesjid” yang mengerubuti-nya…

“Kalian…tidak perlu lagi dengar ocehan adik-ku..”.
Maksudnya, jangan mau dengar lagi omongan saya…

Saya ingat, saat si Akang membangun pemerintahan RW
Hampir tiap minggu kami diskusi, bagaimana mengelola
urusan dunia yang berbasis cita-cita luhur “ketuhanan”
asmaul husna untuk rahmattan lil alamiin. Dan sukses.

Dan saya lebih ingat pula, saat si Akang membangun
pengelolaan mesjid. Juga hampir tiap hari diskusi,
bagaimana jalan menuju akhirat harus dibangun secara
profesional agar tidak bolong-bolong karena korupsi.

Keimanan akhirat itu mobil mewah dan agung….tapi
tidak pernah peduli harga aspal, tidak juga peduli
upah pekerja supaya stoom-wals tetap terisi solar
dan tentu juga tidak harus peduli bagaimana batu kali
disusun untuk kekuatan fondasi.

Kemewahan dan kehebatan mobil pastilah amburadul
jika jalan yang dilaluinya tiap hari lebih amburadul.
Karena bukannya aspal dan batu kali dihamparkan…
agar jalan bisa kokoh menahan gilasan…
Tapi… malah habis dimakan sebagai penganan..

Ah, indahnya saat itu…kami sepakat-sepakat saja.
Semua diskusi berbasis make-sense. Dan semua urusan
berjalan lancar karena selalu WELL-ORGANISED.

Sampai, itu tadi ada bocoran dari “the inner circle”
yang mungkin menjadi symptom berakhirnya diskusi.

“Pusing saya mengikutinya…”, demikian sumber-sumber
saya melaporkan ucapan yang belakangan sering terlontar
dari  kejengkelan si Akang terhadap saya.

Entah kata-kata saya yang mana yang membuat si Akang pusing.
Entah usulan saya yang mana yang bikin si Akang melarang
anak-anak muda masjid untuk mendengar omongan saya lagi….

Kebetulan saja, Barusan saya terima email dari teman main
sepak-bola saat dulu di pekuburan Maleer Bandung….Juga
teman yang sangat fanatik terhadap ide RAHMATTAN LIL ALAMIIN.

“A…saya sudah usulkan untuk membubarkan segala
bentuk organisasi sektarian….termasuk RW dan DKM mesjid…”.

Isi email sebenarnya panjang, tapi tak perlu saya sampaikan
semuanya, karena ada hal private seperti pesanan oleh-oleh
topi dan scarf Liverpool. Dan juga titipan pesan dari temannya
teman….kalau-kalau saya ada dana untuk modal usaha.

Yang bikin saya terpaksa mikir, usulan dia ada benarnya….
Jika cita-citanya untuk kemaslahatan seluruh ummat manusia
kenapa harus ada grouping…kenapa harus ada sektarian
kenapa harus ada ORGANISASI….yang well organised pula ?.
Organisasi yang hanya menguntungkan SEKELUMIT ummat.

Ah….pantesan saja si Akang…pusing.
Well organised untuk kesejahteraan seluruh ummat…
tapi organisasinya, sungguh bukan untuk seluruh ummat

Si Akang lupa ada jurus sakti menangani paradox…
“Eventhough every man die, But not every man really live”
demikian Braveheart….

Si Akang sebelum bilang pusing sebenarnya telah really lived.
Telah punya cita-cita, telah merancang cita-cita,
menjalankan cita-cita…setersedianya pikiran dan tenaga

That’s it.

sekalipun RW dan DKM nya nanti tentu saja pasti bubar…
Dan memang….segala apapun hasil akhir memang DIE, mati.

Tapi…really life itu proses dan bukan hasil akhir.

karena itu….Akang jangan pusingin kesimpulan akhir.
I will always love you…Kang.  

-
Thetis Road 20071208

Sentimen Malaysia mah…gampang

Membaca berita pemukulan wasit Karate Indonesia oleh polisi Malaysia,
Saya ikut sedih, marah, bingung, tapi juga merasa tidak berdaya.
Dulu banyak cerita tentang siksaan majikan Malaysia terhadap TKW,
lalu keberingasan Polisi Malaysia terhadap TKI, kemudian
kebringasan Polisi Diraja terhadap warga Indonesia apapun.
Belakangan beberapa teman Wisatawan Indonesia juga mulai bisa
ikut merasakan pelecehan dan hinaan dari warga Malaysia.

Seolah ada peningkatan intensitas kasus pelecehan.
Dari kasus dapur, majikan-babu sekarang berkembang menjadi
kasus bangsa Tuan Malaysia dan bangsa budak Indonesia.

Tapi masih bagus, karena sampai sekarang belum ada poster
atau tulisan di Hotel atau di WC umum Malaysia yang memajang:

“Warga Indonesia dan anjing dilarang masuk”
Seperti bunyi tulisan jaman Penjajahan Belanda dulu.

Tapi sebelum poster dan tulisan itu secara terbuka muncul
disetiap pintu WC-WC Malaysia. Maka ada baiknya kita sebagai
warga Indonesia mulai pasang kuda-kuda.

Masang kuda-kuda tidak selalu harus dengan “ganyang malaysia”,
atau dengan cara nyuruh pejabat kita supaya cuap-cuap
menghujat Malaysia. Tentu tidak juga dengan melarang
warga Indonesia kerja di Malaysia.
Kita tidak perlu bunuh diri hanya karena dipandang rendah.

Untuk masang kuda-kuda, kayaknya kita bisa mulai dengan NGACA.

Jika kita percaya, bahwa suara khalayak banyak adalah suara kebenaran.
Lalu sekarang mulai tampak dari polisi sampai khalayak Malaysia
tidak suka orang Indonesia,
Maka ketidak su-kaan ini boleh jadi sebagai kebenaran yang beralasan,
sebagai kejujuran dari hati terdalam orang Malaysia.

Ketidak sukaan khalayak Malaysia terhadap khalayak Indonesia pasti
juga akan menjadi “special case”
kasus khusus yang keluar dari pakem umum sentimen beda RAS
atau karena beda agama.

ini betul-betul sentimen manusiawi, karena muncul dari
sentimen “bangsa kaya” terhadap “bangsa miskin”.

sentimen atau ketidak sukaan orang Malaysia terhadap “saudaranya”
orang Indonesia tidak akan lebih berbahaya
dan tidak akan sesulit seperti sentimen Hitler terhadap Yahudi.
karena bangsa Yahudi tidak mungkin mengganti darahnya
menjadi semerah darah orang Jerman.

dalam kasus sentimen Malaysia terhadap orang Indonesia
…..lebih gampang, dan tidak sulit.

Cukup orang-orang Indonesia segera saja kaya-kaya dan sejahtera,
kalau bisa lebih sejahtera dari Malaysia.
Dijamin, pasti orang malaysia akan suka sekali sama orang Indonesia.

Tapi….
siapa yang akan peduli dengan kesejahteraan orang Indonesia ?..
DjayaWikarta

Antara ABU DHABI dan JAKARTA

Setelah menunggu lima jam terkantuk-kantuk karena harus
transit di bandara Abu Dhabi, akhirnya saya bisa ikut
masuk barisan. Terselip sendirian diantara antrian
panjang kaum perempuan selalu saja menyenangkan.

Tidak seperti saat antri pergi dari Sukarno-Hatta, atau
queing di Gatwick yang sunyi dari suara percakapan.
Antri di Abu Dhabi betu-betul meriah. Semua perempuan
dalam barisan tidak pernah kehilangan percakapan. Akumulasi
suara ratusan percakapan bahasa Indonesia, Sunda dan Jawa
secara simultan hanya menghasilkan satu bunyi…dengung.

Sangat mengagumkan, perempuan-perempuan muda ini masih
bisa mendengarkan lawan bicara dan sekaligus menanggapinya.
Dan daya pilah frequensi suara mereka sangat luar biasa,
mereka bisa mengenali frekuensi suara bisikan teman bicara
diantara kebisingan yang memenuhi lorong antrian.

Walhasil, selama masa antrian dan boarding, saya tidak
bisa memetik satu-pun cerita. Padahal mereka kelihatannya
sangat ceria, bersemangat dan berbinar-binar bercerita.
Dan cerita-cerita minor tentang TKWI sepertinya mustahil
terjadi. Saya tidak melihat muka mereka ada yang sedih.

Abu Dhabi untuk mereka selalu identik dengan KOLEGA BARU
dan INFO PELUANG terbaru. TKWI segala penjuru rendevous disana.

Layaknya LAPANG GOLF untuk anggota DPR, Pejabat dan Pengusaha.
Yang berdiskusi merundingkan cara MENGOSONGKAN duit negara.

Sementara di Abu Dhabi, para perempuan itu “berseloroh”
untuk bisa lebih banyak dan langgeng NAMBAH devisa negara.

Saya seperti biasa memilih kursi aisle rada dibelakang,
supaya gampang kalau mau ke WC. Sejauh mata memandang
kedepan, kebelakang dan kesamping…..semua perempuan.
Dikursi tengah namanya Dedah, di kursi window…Ida.

Pesawat Boeing 777 yang hampir penuh oleh perempuan pun
merangkak ke angkasa dengan ringan dan hening….
Namun ke-hening-an hanya dirasakan a couple of minutes,
dan keriuhan celoteh pun kembali kumat seperti tadi.

Untung saja, akustik kabin pesawat tidak seburuk bandara.
Disini kita bisa menangkap semua percakapan dan obrolan.
Lalu-litas percakapan sekarang lebih sporadis dan riuh.
Lawan bicara bukan cuma orang yang duduk disamping, Ida
yang duduk di jendala kanan, dengan asyiknya ngobrol
dan ngegosipin majikannya dengan Ningsih di jendela kiri.

Juga Titin di kursi ekor yang nyender ke aft bulkhead
pesawat dengan leluasanya mendiskusikan suaminya yang
nganggur dengan Romlah di kusi tengah didaerah sayap.

lama sekali saya menunggu kesempatan untuk bisa mendapat
kesempatan bicara dengan Ida, yang tampaknya sudah senior
dalam pengetahuan “handling majikan” di arab…
Dan kesempatan itu akhirnya datang ketika waktu makan,
saat yang terdengar hanya deru mesin jet dan suara-suara
kecipak mulut mengunyah.

Ida, ternyata berusia “sudah tua dua-enam tahun”, katanya.
pengalaman “baru delapan lebih setengah” tambahnya pula.

“Dulu saya pernah di Kuwait, tapi jahat-jahat, terus saya
pindah ke Doha, sekarang saya di Riyadh….alhamdulillah
yang sekarang mah ….baik-baik”, mulut Ida senyum
menunjukkan sisa daging ayam tika masala di-gigi-nya….

“Lho…koq, Kuwait jahat-jahat bagaimana, kan yang jahat
mah agen-agen yang suka meres dan nilep upah ?, saya coba
diskusi dengan modal pengetahuan berita koran Indonesia.

“Kalau agen-nya jahat mah atuh gimana…?” Ida malah nanya
sambil matanya fokus kearah garpu stainless mengkilat.

Lalu ….sambil memasukkan garpu kedalam saku jaketnya….

“Iya betul jahat-jahat…kan biasanya mah paling dua atau
sampai enam bulan nggak dapat upah…teman saya malah
sampai pulang dua tahun nggak dapat juga upah-nya”, panjang
lebar Ida cerita tentang banyaknya “kejahatan”. Tapi
berita HOT yang saya tunggu-tunggu tidak juga keluar…
Berita hot tabloid, penyiksaan, pemerkosaan, pembunuhan.

Waktu saya pancing-pancing bahwa ada TKWI yang disiksa…
malah Ida melongo….malah

“O..ya…terus UPAH-nya dikasih ?”, Ida nanya tanpa berkedip.

Rupanya, untuk Ida dan teman-teman-nya dan mungkin juga saya…
Ada yang lebih penting dari SIKSAAN….atau kematian.

20061212
DjayaWikarta

BIG boy

Sabtu sore akhir musim panas, Setelah seharian hunting
laptop bekas di pameran University London College dikawasan
Tottenham, saya pulang pake jurusan Weston naik Coach,
bus juga tapi yang melayani trayek antar kota dan ada WC-nya.

Bus berangkat dari station Victoria London hanya berisi
penumpang setengahnya, saya duduk paling belakang
bersebelahan dengan WC yang wanginya segar aroma lemon.
Saya sempat menghitung, ternyata utilisasi WC hanya
empat kali. Sekali dipake nenek-nenek, dan sisanya
saya yang pake….aji-mumpung duduk dekat WC.

Hari sudah gelap saat memasuki kota pemandian Romawi Bath.
Bus-pun sekarang kosong. Hanya tersisa dua orang, sopir yang
sekilas mirip paul McCartney asyik di pojok kanan-depan dan
saya yang betah duduk menunggui WC di pojok kiri-belakang.

Menjelang masuk kota Bristol, saya terpikir untuk pindah
duduk ke-depan, daripada ngantuk yaaa sekedar menemani
ngobrol sopir yang kerja sendirian.
Tapi baru saja saya berdiri, tiba-tiba bus berhenti sejenak.
Dan seorang perempuan muda naik….wangi sekali dan cantik.
Sekalipun jauh, wangi-nya jelas-jelas tercium lebih segar
daripada wangi lemon di WC sebelah saya.

Perempuan ini tidak duduk di kursi penumpang, setelah dia
mendapat ciuman dari sopir terus saja berdiri sambil tangan
kanannya merangkul pundak sang sopir. Dari obrolannya,
tampak mereka seperti suami-isteri atau paling tidak sudah
lama hidup bersama.

Orang Inggris rupanya sudah terbiasa dimanapun selalu
bicara dengan volume yang keras. Bahkan, bisik-bisiknya pun
lebih keras dari suara mesin bus dibawah tempat duduk saya.

Sekarang Bis segede itu rame, sekalipun hanya berisi tiga
orang, pacar sopir, sopir dan tentu saya penumpang.

“Dear…nanti malam jadi kita makan ?”, si perempuan melendot.
Dari kaca spion, si dear-sopir tampak mesem-mesem dan senyum
mengagguk. si Perempuan mengaduk-aduk rambut pirang sopir.

“Sudah booking…”, sekarang sopir konfirmasi sama dear-nya.
si dear perempuan balas mesem-mesem dan mengangguk-angguk…

“Tapi…nanti malam saya musti nonton fire-work….” dear Sopir
bicara keras seperti baru sadar dan tidak mesem-mesem lagi….

Untuk seKali ini si-dear perempuan malah menoleh kebelakang
kearah saya yang duduk jauh dalam temaran lampu baca bus.

Maka saya sebagai sesama laki-laki yang doyan kembang api…
mesem-mesem…dan mengangguk-angguk lebih setuju fire-work.

Tapi, saat Bus sampai di station Weston perhentian terakhir…
saya menyesal. Karena melihat si dear-perempuan bergegas
turun dari Bus dengan muka berkerut dan bersungut-sungut
meninggalkan dear-sopir yang tampaknya sangat tidak peduli.

Malah kepala sopir sibuk melongok-longok keatas langit….
Nyari-nyari fire-work….

20020803-Clevedon
DjayaWikarta

Sabtu Petang…..

Suatu petang, hari Sabtu
aku pake baju kojo lumayan necis
sudah mandi tentu saja wangi
sebentar lagi aku apel pertama kali

Kali ini dengkul harus dimanjakan
kayuhan sepatu harus diistirahatkan
maka aku tunggu saja abangku pulang
karena katanya, apelnya abangku mau halftime
demi sang adik yang akan indreyenan pacaran

Abang-ku memang abang tercinta
sepeda motor honda bebek 73 warna biru metalik
sudah mengkilap tinggal pake sekarang siap dipake.
awas jangan lewat jalan becek, abangku berpesan.
pulang jangan lewat jam sepuluh, lewat jalan rame saja
nanti kamu dirampok orang.
kelahi memang kamu menang, tapi motor bonyok
siapa yang mau ganti?

Dduh…abangku juga memberi bekal sebungkus Marlboro
orang apel harus tampil perkasa dan jantan
beri impresi di kesempatan pertama, abangku menambahkan
aku tak sempat menjawab, deg-degan saja setengah mati
mikir pacaran, juga mikir naik motor abang takut tabrakan.

Dan abangku pula yang nge-slag motor, tokcer memang.
sesaat sebelum motor bergerak, abangku berteriak
Nih, pake jaket-kulit, biar kelihatan bonafid. Abang baek tenan.
Aku diam diatas jok, abang mendandani aku dengan jaketnya,
Lengkap sudah. Baju wangi. Jaket wangi. Motor mengkilap…
Mana tanganmu, sini. Lalu tangan kami cesssss
pulangnya, aku tunggu. aku pengen tahu ceritanya…
sukses! Lalu pundakku ditepuk-tepuknya…

Lima menit kemudian aku sudah meluncur di jalan buah-batu
dua tanganku keras mencengkram stang motor
kepalaku muter merancang kalimat pembuka
dan roda depan sepeda motor memanjati trotoar
menggilas rambutan, duku, jeruk dan penjualnya sekalian…

Sekarang baju, jaket dan motor beraroma lemon.
pedagangnya orang Gedebage, sangar tapi baik
bukannya marah malah ngasih obat merah
aku ingat, setiap hari ketemu saat aku nunggu biskota
mau ke manaaaa atuh? Sudah still? Koq ngelamun?
aku diam saja. Aku ingat abang. Ingat kebaikan abang…

segelas teh dan sebutir jeruk aku habiskan, agar tenang katanya
dan sebungkus Marlboro utuh aku paksa sisipkan ke kantungnya.
semoga bekal dari abangku tidak melulu untuk kegagahan…
jam tujuh malam tanganku kembali menegang memengang stang
deg-degan ku bukan lagi karena menjelang pacaran.

Rumah penuh suplir, rumpun kuping gajah dan wangi sedap malam
bel rumah mendentingkan nada G dan Am grandpiano berulang-ulang
rok korduroy hitam dibawah lutut, baju tanpa lengan warna salem
dan hidung berujung tumpul yang aku suka. Keluar membuka pintu

dia sedang menunggu seseorang. Tapi bukan aku.
aku hanya orang yang datang di saat yang tepat.
sekalipun bukan orang yang tepat.
biarin kataku dalam hati saja.

“Mas….cari siapa ?”, bibirnya bergerak.

Karena…. aku mencintainya

Date: Wed Apr 24, 2002  5:23 am

Sendirian di depan TV, duduk membungkuk
layar kaca seolah akan diseruduk

Alan Sheldon sang pemilik bed & breakfast di Locking Road
pelahap opera sabun coronation street tanpa terlewat.
aku cukup membayar sewa kamar+sarapan 15 quit sehari
maka apapun dia berikan, tidur dimana saja diperbolehkan
juga….menggantika n abah yang aku rindukan

Usia hampir sembilan puluhan tak ada lagi yang dikhawatirkan
Losmen sebelas kamar sekedar peluang dapat teman berbincang

“My lovely wife has gone, tepat dua tahun lalu, breast cancer,
anak perempuan-ku di Gloucestershire dengan suaminya”.

“….but…. I’m happy…..”, katanya buru-buru menambahkan.
Aku tidak menanyakannya. ..tapi aku suka mendengarnya

Setiap hari anak nya menelepon tepat jam enam sore…
sekedar menanyakan ada yang menginap atau tidak…
Sudah dua jam aku menemaninya nonton tv sejak pulang kerja
tadi jam lima sore

Tapi telepon genggam dan telepon hitam di meja tak juga berdering
“Anak perempuan mu ….?”, aku nanya hanya karena kebiasaan

“Ah…British Telephone payah…”, katanya, entah menjelaskan apa

“Tapi anak-mu bisa pake mobile..?.”, aku memperpanjang pertanyaan

“Vodafone… juga payah…anak ku pasti sedang menelepon
dari jam enam tadi….”, dia yakin anaknya tak akan lupa menelepon.

“Bagaimana kamu tahu ?”, aku mulai iseng.

“Aku mencintainya. …”, pelan dia menjawab.

Aku tahu…..ini jawaban jelas-jelas nggak nyambung….
tapi aku suka mendengarnya.
“Kamu memang abah-ku….. “, aku berbisik tak kalah pelan.

“Pardon….say it again…?”,
dia terperanjat mendengar bahasa planet.

SOMERSET – AVON – Locking Road,
Date: Wed Apr 24, 2002 5:23 am

British Muslim……Tidak berjanggut

Tanggal 11 september 2001 lewat sudah
Kecuali pengurangan lapangan kerja dimana-mana
maka BBC pun ikutan seperti tv-tv indonesia
saat menjelang bulan Ramandhan….
BBC banyak menyiarkan kehidupan orang-orang islam
di sekitar england.

Channel 4 secara serius mengadakan pekan khusus…islam
bahkan menulis judulnya saja bukan “moslem” tapi “british muslim”
Acara tayang masih prime time….jam 8 malam.
Setiap malam selama 10 hari…
Fokus tayangan bukan lagi asian british…..(peranakan india atau arab)
dan kebetulan bbc tidak kenal asia timur muslim…ato oriental muslim.
kadang mereka pikir….apapun oriental tak akan jauh dari kon-fu-sian
atau budha…atau animisme.

Dan mereka lebih kenal Malaysia daripada Indonesia…..
“Indonesia itu kan pulau-pulau yang terlewati kalau kita ke Australia
?”
Saya tegas-tegasin Indonesia…tetap saja mereka bilang Malaysia.
yaaaa sudah…..bukan salah beta kalau Malaysia terletak
diantara 2 benua…
Beruntunglah….masih ada CNN, yang rajin nayangin Indonesia.
Sekalipun cuma tayangan-tayangan ke-kumuhan dan… krisis
akut….katanya.

Kembali soal siaran BBC….tayangan tentang british muslim
itu pake logo mirip bendera Partai Bulan Bintang…..
yang dibentuk dari animasi
Bintang-nya dari pulau Ireland…..bulan sabit-nya england-scotland.
Klop…bagus banget animasi….dan narasi pembuka yang SERAM….
Sesuai dengan isi tayangan…..aseli british muslim
Bukan asian muslim.
Bahkan Cat-Steven tidak masuk hitungan karena berbau Mediteranian.

Detail tayangan sebenarnya biasa saja….tayangan rinci sampai ke hal
sepele khas siaran BBC. Ada ibu-ibu, ada remaja, ada kakek-kakek. Semua
dikuntit mulai dari bangun tidur pergi mandi, keluar kamar
mandi..pake kerudung pergi kerja, saat bekerja dan komentar teman-
teman, keluarga serta bos-bos nya.
Semua ceritanya…..ternyata menggelinding saja tanpa sedikitpun
ada thriller ato suprise.

Dan sepuluh hari acara tayangan yang di-iklan-kan di koran-koran pun
berakhir….
“BBC four telah salah memilih object tayang……”, komentar
beberapa orang pribumi.

“Islam tidak bernilai berita kalau penganutnya orang British”,
para pengamat komunikasi media-massa ikut menimpali.

Tayangan tentang islam sebelumnya selalu emosional karena
objek nya Asian…
Entah akan seperti apa nilai tayangan jika objek nya riental….
seperti kita melayu.

Dan si Tristan orang Liverpool yang tinggal di lantai-1, tidak
percaya saya islam…..
“Karena kamu tidak ber-janggut….”, katanya serius saat
pinjam duit untuk taruhan.
“Kalau kamu berjanggut, aku tak akan berani pinjam……”, dia
menambahkan.

Sekarang saya pikir-pikir untuk pake janggut pake brewok agar dia
tidak bolak-balik pinjam setiap kali kesebelasan Liverpool
bertanding di liga primer.
Biar dia takut sama islam…..:)

WSM, 20020320

Orang Indonesia ternyata bisa

Kesenangan tidak selalu harus berupa keuntungan… rupanya.
Kebanggaan tidak juga harus selalu melalui prestasi.

saya menyaksikan audisi American Idol

Lalu muncul wajah riang gembira sangat pede serta
posture dan keceriaan yang sangat saya kenal…
Lalu…dengan lantang dia memperkenalkan diri
“I am I Made Winangun…..actually from Bali…Indonesia”.
sekarang katanya tinggal di Rhode Island atau apalah …

Dan para juri Simon Cowell, Randy dan Paula Abdul
tampak sungguh-sungguh tercengang…” Hah…Indonesia ?”.
Saya dan orang semarang pemirsa ITV2 tak kalah tercengang
Hampir bareng kami berteriak…
“Hah..ini dia orang INDONESIA yang berani tampil global…”.

Lalu blek- Made ini meneriakkan lagu rock…
kencang banget, sepenuh hati dan juga sepenuh tenaga
Lalu seperti kebanyakan peserta lainnya… tidak lulus.

Tapi satu hal yang membedakan I Made dari semua peserta.
Level keceriaan yang sama, saat masuk audisi, saat
meneriakkan lagu Rock dan juga saat ditolak oleh juri.
I Made malah tersenyum dan membungkuk takzim
“thank you”, katanya sambil berjalan tenang keluar…

Dan komentar Ryan si pembawa acara saat terheran-heran
karena pundak-nya malah ditepuk-tepuk oleh blek-Made…
“Fantastic…look..he keep smile…” katanya sungguh-sungguh.

Menjelang tidur saya merasa baru-saja menemukan jati-diri.
BERANI, PERCAYA DIRI, KEEP SMILE, HUMBLE dan Nothing to loose….

Seharusnya saya juga bisa bangga jadi Indonesian….

salam,

Mas Majid lebih faham BUKU

Hari biasa perpustakaan tutup jam sembilan
seharian menghabiskan siang sampai malam
bersunyi dibalik benteng buku-buku
biarkan ruang kuliah diisi orang lain saja

berjalan berpetualang disela pikiran orang
buku dibuka mencari pikiran terbuka
buku ditutup lalu jalani hidup
membiarkan pikiran berjalan
berguru tidak sama dengan meniru

belum jam sembilan penjaga sibuk berkemas
lampu neon dipojokan jauh dipadamkan
jam pulang selalu membuat kelonggaran
ada alasan pinjam buku lebih dari aturan

lima buku berukuran batako dibawa pulang
ditenteng dalam kegelapan pohon mahoni dan damar
semerbak kotoran kuda menyengat penciuman
buku ternyata berat nian
karena ilmu pengetahuan pun tidak ringan

sejarah penelitian ratusan tahun
seolah akan terlahap habis dalam dua pekan
tapi biar lah
menenteng buku tebal juga kebanggaan
tidak banyak orang memboyong buku malam-malam

angkot terakhir hanya berisi sopir
duduk sendiri di belakang tanpa banyak pikir
tumpukan buku lebih sepertiga meter
sengaja didekap diatas pangkuan
“Sedang musim ujian…?”, sopir sekedar menyapa.

Satu jam berlalu angkot dhentikan buku diturunkan
mas Madjid tukang sate madura tersenyum riang
mas Madjid nyaris menghamparkan karpet merah
bakaran sate ayam selalu sudah disiapkan
penuntut ilmu selalu makan sate ayam setiap malam.

Lima bundel batako ditumpuk dengan botol acar ketimun
buku ditepuk-tepuk dan dibuka-buka
sepuluh tusuk sate segera saja siap terhidang
Mas Madjid ikut menimang-nimang buku pengetahuan

ditangan mas Madjid buku terlihat ringan
padahal ilmu dalam buku sangatlah berat

“Berat juga….mas berapa sekarang harga buku se kilo…..?,
mas Majid dengan ringan bertanya.
——————————————————————————

Somerset – 030801
DjayaWikarta